Tuesday, December 15, 2015

i'm backkkkkk




Tiga bulan yang lalu gue sempat berduka, dimana bokap gue menyusul kepergian sahabat gue. Yes, bokap gue meninggal. Hal tersedih disini, bukan karena bokap gue meninggal, tapi karena adanya hubungan buruk antara gue dan bokap gue.  

Kita serumah tapi kita jarang berkomunikasi. Dan sekalinya komunikasi, pasti selalu ada perdebatan diantara kita. Kita juga nggak pernah foto berdua, kalo mau dicari sih ada, tapi pasti bisa di itung dengan jari.  Mungkin dia orang baik, mungkin juga dia sahabat yang baik,  tapi dia bukan sosok bapak yang baik, di mata gue. Hubungan buruk disini bukan berarti kita selalu bertengkar, kita masih suka becanda dan pergi bersama. Tapi sifat otoriter, nggak bisa diajak kompromi dan kolot itulah yang selalu membuat kita bertengkar dan otomatis, gue lah yang paling banyak berontak, kesal dan bete. Ya berontak-berontak selayaknya anak muda berusia 24 tahun lah. Masih dalam tahap normal kok :)

Hal tidak normalnya adalah ketika bokap terbaring sakit gue sama sekali nggak menggubrisnya. Sometimes, beberapa temen deket gue yang tau gimana hubungan gue sama bokap, sering nasehatin gue supaya tidak menaruh dendam yang dalam ke bokap gue. Menurut temen gue, seburuk apapun dia, dia adalah bokap gue. Ya kembali lagi dengan kekerasan kepala gue, gue mengabaikan ucapan mereka.  Tapi meskipun begitu, gue masih mau kok buat beliin obatnya dan nyuapin sesekali.

Ketika masa kelam itu tiba, detik-detik dimana bokap menuju koma. Gue masih bisa masuk kerja, sedangkan sedangkan keluarga besar gue udah stay di rumah untuk berjaga-jaga. Sampai akhirnya, belum ada 3 jam duduk di bangku kantor, hp gue kembali berdering. Dan itu merupakan pertanda bagi gue. Dan ternyata benar, ketika gue angkat telepon di hp gue, Om gue langsung teriak nyuruh gue pulang dan katanya sih bokap manggil-manggil nama gue terus. Saat itu juga gue langsung bergegas dan order gojek. Jaman sekarang simple, tinggal order, nggak perlu lari-lari nyari ojek sambil nangis. Ntah kenapa selama di perjalanan pulang, hati gue nggak tenang dan gue nangis sejadi-jadinya. Untung aja helm si kang gojek full face dan gue pake masker, jadi nggak ada satu orangpun yang tau kalo gue lagi nangis sambil gemeter. Satu hal yang bikin gue nangis disitu adalah ketika gue mengingat kejadian berapa malam sebelum bokap koma.
 
Malam itu, gue baru pulang kerja, gue capek, otak gue lelah dan gue sengaja santai sejenak di sofa. Di tengah kesantaian gue, bokap manggil gue minta disuapin. Mungkin saat itu otak gue juga lagi penat, jadi gue nggak pikir panjang lagi. Gue langsugn bentak bokap dan ntah bokap yang biasanya gue kenal galak dan pasti akan balik ngebentak gue, tapi saat itu bokap cuma bisa diem dan nggak mau makan. Bokap minta maaf ke gue karena udah ganggu istirahat gue dan gue sama sekali nggak meresponnya. Yang gue lakuin cuma keluar dari kamar dan banting pintu.  

Setibanya gue dirumah, gue minta beberapa keluarga yang ada di kamar bokap untuk keluar dan meninggalkan gue berdua sama bokap. Disitu gue bicara di kuping bokap dan minta maaf. Meskipun bokap nggak bisa jawab, tapi gue yakin dia denger, karena bokap sempet memberikan reaksi seperti ingin bangun dan membalas ucapan gue, tapi bokap nggak sanggup. Makin sore menjelang malam bokap semakin susah untuk nafas, kita sekeluarga memutuskan untuk bawa bokap ke rumah sakit, tapi nyatanya setiba dirumah sakit, bokap tinggal nama. Nggak ada satu dokter yang bisa nanganin, semua yang nanganin bokap disitu berkata kalau bokap udah ilang di perjalanan menuju rumah sakit.

Sedih? Kehilangan? Pasti! Tapi ntah kenapa nggak ada reaksi ekstrim yang keluar dari gue seperti gue dulu histeris pas tau Oma, Tante gue dan sahabat gue meninggal. Beberapa temen kantor yang ngelayat pun sempet sempet menduga-duga kalo gue nggak sedih, tapi itu nggak masalah buat gue, karena menurut gue kesedihan itu cukup kita sendiri yang tau.

17 November yang lalu, di tanggal lahir bokap, gue menyempatkan diri untuk ke makam bokap. Seumur hidupnya, gue nggak pernah ngucapin selamat ulang tahun, tapi kemaren gue malah datang ke makamnya. Mungkin terlihat nggak guna dan terlambat, tapi itu lah yang namanya penyesalan. Yang paling menyedihkan adalah tahun ini gue kehilangan dua orang sekaligus, yaitu Bokap dan alm Sahabat gue. Gue adalah orang yang paling jarang mengucapkan kata sayang, tapi semenjak meninggalnya mereka, gue menjadi orang yang mudah untuk mengutarakan rasa sayang, baik dengan sodara maupun sahabat. 

Pelajaran yang gue ambil disini adalah seburuk-buruknya orang tua lo dan sebisa-bisanya lo berdiri tanpa mereka, tapi ketika mereka ‘pergi’ lo akan merasa kehilangan dan sedih dan pastinya lo sadar kalau mereka berharga dan berarti  :)