Tiga bulan yang lalu gue
sempat berduka, dimana bokap gue menyusul kepergian sahabat gue. Yes, bokap gue
meninggal. Hal tersedih disini, bukan karena bokap gue meninggal, tapi karena
adanya hubungan buruk antara gue dan bokap gue.
Kita serumah tapi kita
jarang berkomunikasi. Dan sekalinya komunikasi, pasti selalu ada perdebatan
diantara kita. Kita juga nggak pernah foto berdua, kalo mau dicari sih ada,
tapi pasti bisa di itung dengan jari. Mungkin
dia orang baik, mungkin juga dia sahabat yang baik, tapi dia bukan sosok bapak yang baik, di mata
gue. Hubungan buruk disini bukan berarti kita selalu bertengkar, kita masih
suka becanda dan pergi bersama. Tapi sifat otoriter, nggak bisa diajak kompromi
dan kolot itulah yang selalu membuat kita bertengkar dan otomatis, gue lah yang
paling banyak berontak, kesal dan bete. Ya berontak-berontak selayaknya anak
muda berusia 24 tahun lah. Masih dalam tahap normal kok :)
Hal tidak normalnya adalah
ketika bokap terbaring sakit gue sama sekali nggak menggubrisnya. Sometimes,
beberapa temen deket gue yang tau gimana hubungan gue sama bokap, sering
nasehatin gue supaya tidak menaruh dendam yang dalam ke bokap gue. Menurut
temen gue, seburuk apapun dia, dia adalah bokap gue. Ya kembali lagi dengan
kekerasan kepala gue, gue mengabaikan ucapan mereka. Tapi meskipun begitu, gue masih mau kok buat beliin
obatnya dan nyuapin sesekali.
Ketika masa kelam itu
tiba, detik-detik dimana bokap menuju koma. Gue masih bisa masuk kerja,
sedangkan sedangkan keluarga besar gue udah stay di rumah untuk berjaga-jaga.
Sampai akhirnya, belum ada 3 jam duduk di bangku kantor, hp gue kembali
berdering. Dan itu merupakan pertanda bagi gue. Dan ternyata benar, ketika gue
angkat telepon di hp gue, Om gue langsung teriak nyuruh gue pulang dan katanya
sih bokap manggil-manggil nama gue terus. Saat itu juga gue langsung bergegas
dan order gojek. Jaman sekarang simple, tinggal order, nggak perlu lari-lari
nyari ojek sambil nangis. Ntah kenapa selama di perjalanan pulang, hati gue
nggak tenang dan gue nangis sejadi-jadinya. Untung aja helm si kang gojek full
face dan gue pake masker, jadi nggak ada satu orangpun yang tau kalo gue lagi
nangis sambil gemeter. Satu hal yang bikin gue nangis disitu adalah ketika gue
mengingat kejadian berapa malam sebelum bokap koma.
Malam itu, gue baru pulang
kerja, gue capek, otak gue lelah dan gue sengaja santai sejenak di sofa. Di
tengah kesantaian gue, bokap manggil gue minta disuapin. Mungkin saat itu otak
gue juga lagi penat, jadi gue nggak pikir panjang lagi. Gue langsugn bentak
bokap dan ntah bokap yang biasanya gue kenal galak dan pasti akan balik
ngebentak gue, tapi saat itu bokap cuma bisa diem dan nggak mau makan. Bokap minta
maaf ke gue karena udah ganggu istirahat gue dan gue sama sekali nggak
meresponnya. Yang gue lakuin cuma keluar dari kamar dan banting pintu.
Setibanya gue dirumah, gue
minta beberapa keluarga yang ada di kamar bokap untuk keluar dan meninggalkan
gue berdua sama bokap. Disitu gue bicara di kuping bokap dan minta maaf.
Meskipun bokap nggak bisa jawab, tapi gue yakin dia denger, karena bokap sempet
memberikan reaksi seperti ingin bangun dan membalas ucapan gue, tapi bokap
nggak sanggup. Makin sore menjelang malam bokap semakin susah untuk nafas, kita
sekeluarga memutuskan untuk bawa bokap ke rumah sakit, tapi nyatanya setiba
dirumah sakit, bokap tinggal nama. Nggak ada satu dokter yang bisa nanganin,
semua yang nanganin bokap disitu berkata kalau bokap udah ilang di perjalanan
menuju rumah sakit.
Sedih? Kehilangan? Pasti!
Tapi ntah kenapa nggak ada reaksi ekstrim yang keluar dari gue seperti gue dulu
histeris pas tau Oma, Tante gue dan sahabat gue meninggal. Beberapa temen
kantor yang ngelayat pun sempet sempet menduga-duga kalo gue nggak sedih, tapi
itu nggak masalah buat gue, karena menurut gue kesedihan itu cukup kita sendiri
yang tau.
17 November yang lalu, di
tanggal lahir bokap, gue menyempatkan diri untuk ke makam bokap. Seumur
hidupnya, gue nggak pernah ngucapin selamat ulang tahun, tapi kemaren gue malah
datang ke makamnya. Mungkin terlihat nggak guna dan terlambat, tapi itu lah
yang namanya penyesalan. Yang paling menyedihkan adalah tahun ini gue
kehilangan dua orang sekaligus, yaitu Bokap dan alm Sahabat gue. Gue adalah
orang yang paling jarang mengucapkan kata sayang, tapi semenjak meninggalnya
mereka, gue menjadi orang yang mudah untuk mengutarakan rasa sayang, baik
dengan sodara maupun sahabat.
Pelajaran yang gue ambil
disini adalah seburuk-buruknya orang tua lo dan sebisa-bisanya lo berdiri tanpa
mereka, tapi ketika mereka ‘pergi’ lo akan merasa kehilangan dan sedih dan pastinya
lo sadar kalau mereka berharga dan berarti :)