25 Februari 2015, tanggal yang akan selalu gue ingat
dan gue kenang. Masih ingat sahabat gue yang beberapa hari lalu gue ceritain
koma? Dan gue yakin post'an nya juga masih ada di bawah persis. Kemarin, tepatnya hari Rabu, sahabat gue menghembuskan nafas
terakhirnya pukul 16:40 sore di rumah sakit Thamrin Salemba. Sungguh di
luar dugaan, proses yang sangat cepat, ingin rasanya ini semua seperti mimpi,
tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi. Kenyataan yang cukup membuat hati
sakit dan terluka, tapi di sisi lain gue bahagia karena sahabat gue udah sembuh
total, dia udah nggak perlu pake infus, pake selang, ditusuk-tusuk tiap hari,
dikasih obat tiap hari dan mengeluh sakit lagi. Mungkin sebagian jiwa gue
hilang karena kepergiannya, tapi gue harus tetap menjalani hidup dan percaya
kalau sahabat gue sudah berada bersama Bapa di Surga dan diampuni segala
dosanya.
Merupakan penyesalan yang amat dalam buat gue, ketika
selasa malam gue memutuskan untuk pulang ke rumah. Hati gue emang nggak tenang
tapi gue paksain diri pulang dan tetep ngantor besokkannya. Di kantor pun gue nggak ngerasa
nyaman, gue nyoba untuk hubungin kakak-kakaknya, tapi tumben mereka nggak
ngerespon kayak biasanya. Lalu nggak lama kemudian muncul berita-berita miring
yang bilang kalo Monick, Sahabat gue meninggal. Gue nggak percaya dan bilang
itu hoax. Kejadian itu pukul 3 sore. Sekitar pukul 5 sore, pas kantor bubar. Gue
nyoba untuk telepon bokap Monick, belom sempet berkata apa-apa, bokapnya langsung
bilang “Ya, sudah berangkat. Monick sudah berangkat sama Tuhan”. Seketika itu
juga gue lemes, air mata netes satu persatu di pipi gue. Gue langsung lari ke
rumah sakit dan rumah sakit cukup ramai dengan beberapa keluarga besar Monick.
Gue nangis dan menuju ke orang tua Monick, salah satu pertanyaan yang mungkin
gue menyinggung hati orang tuanya adalah ketika gue bertanya “Tante, Monick
kenapa? Kenapa alatnya di lepas Tan?” Seketika itu juga si tante kembali nangis dan sedikit
marah “OH Tuhaaan..Vitaaa! Nggak mungkin lah kami setega itu, kita nggak
mungkin tega melepas alat itu. Tuhan yang sudah cabut, Tuhan yang melepaskan
nafasnya. Tuhan yang sudah ambil Monick. Sudah sanaa..cepat lihat adikmu”. Seperti yang gue udah bilang sebelumnya, gue
sama Monick udah kayak kakak-adik, gue dan keluarganya juga udah deket, gitu
juga dengan Monick yang udah akrab dan udah dijadiin sodara sama keluarga besar
gue.
Gue belom cukup punya keberanian besar untuk melihat
Monick sendirian. Untuk itu gue ditemenin sama kakaknya Monick dan temen gue.
Temen gue itu sahabatnya Monick juga, mereka sekelas. Perlahan gue masuk ke ruang ICU, gue melihat
sosok manusia di tutupi kain kafan putih dari ujung kepala sampai ujung kaki
dan itulah Monick. Ketika kain itu dibuka, disaat itu juga lah air mata gue
mengalir semakin deras dan seakan-akan nggak bisa berhenti. Gue gemeter, gue
lemes dan nggak bisa berkata apa-apa. Gue cuma bisa pegang tangannya dan cium pipinya
yang udah dingin sambil bilang kalo gue sayang banget sama dia. Lalu kita doa bareng bersama pendeta dan keluarga inti Monick. Keluar dari
ruangan itu, beberapa teman Monick sudah hadir dan ingin segera melihat Monick. Nggak lama kemudian Monick yang sudah dipindahkan ke dalam peti rumah sakit untuk
dimandikan keluar dari ruang ICU. Disitulah suara tangisan semakin keras terdengar. Gue bahagia bisa liat Monick dimandiin, gue seneng bisa fotocopy’in surat kematian Monick. Setelah
dimandiin, jenazah Monick langsung dibawa ke rumah duka di Cikini.
Sampainya di rumah duka Cikini, kerumunan orang-orang
berbaju hitam sudah banyak yang datang. Mereka adalah sahabat-sahabat Monick.
Gue merinding begitu banyak yang sayang sama dia. Gue bahagia banyak
teman-teman Monick yang mau jaga jenazah Monick. Gue seneng bisa jaga buku tamu dan kotak uang
di rumah duka. Gue terharu karena kita semua bisa bagi tugas untuk memperlancarkan
acara selama di rumah duka dan di pemakaman. Dan bagi kita itu semua bukan sebuah
tugas dan sebuah beban melainkan sudah kewajiban kita memberikan yang terbaik untuk Monick
sebagaimana Monick juga sangat baik sama kita semua semasa hidupnya.
26 Februari 2015. Tanggal dimana Monick akan
disemayamkan di petamburan. Gue kembali ke rumah duka pukul 4 subuh. Setelah gue
datang, beberapa teman-teman pulang untuk beristirahat sebentar sebelum kembali
lagi untuk mengikuti proses pemakaman. Hari yang masih pagi. Masih dingin dan gelap. Dimana jenazah
Monick sendirian di rumah duka, disitulah gue duduk disampingnya dan kembali
mengeluarkan air mata. Terlalu banyak kenangan diantara kita dan masih banyak
planning yang belum tercapai. Waktu rasanya
cepat sekali berlalu, baru aja rasanya berduaan dengan Monick, tapi
matahari sudah naik dan beberapa pelayat kembali datang dan gue harus
menyingkir dari jenazah dan kembali meyiap-nyiapkan yang lain, sperti kopi dan
teh untuk tamu, lalu mencari bendera kuning untuk konvoi di jalan dan
lain-lain.
Tepat pukul 14:00, peti jenazah siap ditutup,
disitulah air mata dan teriakan kembali terdengar. Baik dari keluarga maupun
sahabat. Karena sesungguhnya prosesi penutupan peti adalah prosesi yang paling
menyedihkan karena disitulah terakhir kali nya kita melihat wajahnya dan
menyentuh tubuhnya. Usai ditutup, peti langsung dinaikkan ke ambulance. Karena
Monick dan demi Monick, gue menahan diri dan memaksakan diri untuk kuat
mendengar suara ambulance. Semenjak meninggalnya alm tante gue dan alm Oma gue, gue
jadi trauma dengan ambulance dan Monick tau itu. Dan kemarin gue harus
mendengar suara itu lagi ditengah-tengah konvoi ke pemakaman dan mungkin stelah
ini gue akan lebih benci suara itu karena meninggalnya Monick. Sampainya di pemakaman. Sebagian teman-teman, sahabat
dan guru-guru semasa SMA Monick sudah berada disana untuk mengantarkan Monick
ke tempat peristirahatan yang terakhir.
Air mata kembali menderu ketika peti diturunkan. Lalu kami menaburkan
bunga dan foto bersama.
Berikut dibawah ini akan gue lampirin beberapa foto dari tanggal 25 sampai 26 Februari:
1 Maret 2015. Sampai hari ini pun, gue masih belom
percaya Monick pergi ninggalin gue untuk selama-lamanya. Gue masih ngerasa kalo
dia masih ada dan lagi bobo di rumahnya. Gue bener-bener masih nunggu
kedatangan dia ke rumah gue yang di Pamulang, karena dia janji mau nginep di
rumah gue. Dari Valentine gue tunggu-tunggu dia nggak ada dan ternyata dari
Valentine itu lah dia sedang melawan masa koma nya . Kenapa harus secepat ini? Kenapa harus Monick? Dia sahabat
baik ku, dia adik ku yang paling manja, dia orang yang paling ngerti aku. Kepergian Monick meninggalkan luka dan sedih yang amat dalam bagi keluarga dan
sahabat-sahabatnya. Air mata seakan
mengalir terus menerus tanpa henti. Yang gue percaya
sekarang ini adalah, sejauh apapun jaraknya, doa pasti akan selalu sampai dan
ada tidak adanya raga Monick, tapi Monick akan tetap dikenang dan hidup di hati kita sampai kapanpun. Love u dek.. miss u so muchhhh.....
-YCR-
.jpg)
.png)
.jpg)
.png)
.png)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
%2B(3).jpg)
.jpg)
%2B(2).jpg)
%2B(1).jpg)

