Saturday, February 28, 2015

Selamat Jalan Sahabat. Selamat Jalan Adek. You're In My Heart.




25 Februari 2015, tanggal yang akan selalu gue ingat dan gue kenang. Masih ingat sahabat gue yang beberapa hari lalu gue ceritain koma? Dan gue yakin post'an nya juga masih ada di bawah persis. Kemarin, tepatnya hari Rabu, sahabat gue menghembuskan nafas terakhirnya pukul 16:40 sore di rumah sakit Thamrin Salemba. Sungguh di luar dugaan, proses yang sangat cepat, ingin rasanya ini semua seperti mimpi, tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi. Kenyataan yang cukup membuat hati sakit dan terluka, tapi di sisi lain gue bahagia karena sahabat gue udah sembuh total, dia udah nggak perlu pake infus, pake selang, ditusuk-tusuk tiap hari, dikasih obat tiap hari dan mengeluh sakit lagi. Mungkin sebagian jiwa gue hilang karena kepergiannya, tapi gue harus tetap menjalani hidup dan percaya kalau sahabat gue sudah berada bersama Bapa di Surga dan diampuni segala dosanya. 

Merupakan penyesalan yang amat dalam buat gue, ketika selasa malam gue memutuskan untuk pulang ke rumah. Hati gue emang nggak tenang tapi gue paksain diri pulang dan tetep ngantor besokkannya. Di kantor pun gue nggak ngerasa nyaman, gue nyoba untuk hubungin kakak-kakaknya, tapi tumben mereka nggak ngerespon kayak biasanya. Lalu nggak lama kemudian muncul berita-berita miring yang bilang kalo Monick, Sahabat gue meninggal. Gue nggak percaya dan bilang itu hoax. Kejadian itu pukul 3 sore. Sekitar pukul 5 sore, pas kantor bubar. Gue nyoba untuk telepon bokap Monick, belom sempet berkata apa-apa, bokapnya langsung bilang “Ya, sudah berangkat. Monick sudah berangkat sama Tuhan”. Seketika itu juga gue lemes, air mata netes satu persatu di pipi gue. Gue langsung lari ke rumah sakit dan rumah sakit cukup ramai dengan beberapa keluarga besar Monick. Gue nangis dan menuju ke orang tua Monick, salah satu pertanyaan yang mungkin gue menyinggung hati orang tuanya adalah ketika gue bertanya “Tante, Monick kenapa? Kenapa alatnya di lepas Tan?” Seketika itu juga si tante kembali nangis dan sedikit marah “OH Tuhaaan..Vitaaa! Nggak mungkin lah kami setega itu, kita nggak mungkin tega melepas alat itu. Tuhan yang sudah cabut, Tuhan yang melepaskan nafasnya. Tuhan yang sudah ambil Monick. Sudah sanaa..cepat lihat adikmu”. Seperti yang gue udah bilang sebelumnya, gue sama Monick udah kayak kakak-adik, gue dan keluarganya juga udah deket, gitu juga dengan Monick yang udah akrab dan udah dijadiin sodara sama keluarga besar gue.

Gue belom cukup punya keberanian besar untuk melihat Monick sendirian. Untuk itu gue ditemenin sama kakaknya Monick dan temen gue. Temen gue itu sahabatnya Monick juga, mereka sekelas.  Perlahan gue masuk ke ruang ICU, gue melihat sosok manusia di tutupi kain kafan putih dari ujung kepala sampai ujung kaki dan itulah Monick. Ketika kain itu dibuka, disaat itu juga lah air mata gue mengalir semakin deras dan seakan-akan nggak bisa berhenti. Gue gemeter, gue lemes dan nggak bisa berkata apa-apa. Gue cuma bisa pegang tangannya dan cium pipinya yang udah dingin sambil bilang kalo gue sayang banget sama dia. Lalu kita doa bareng bersama pendeta dan keluarga inti Monick. Keluar dari ruangan itu, beberapa teman Monick sudah hadir dan ingin segera melihat Monick. Nggak lama kemudian Monick yang sudah dipindahkan ke dalam peti rumah sakit untuk dimandikan keluar dari ruang ICU. Disitulah suara tangisan semakin keras terdengar. Gue bahagia bisa liat Monick dimandiin, gue seneng bisa fotocopy’in surat kematian Monick. Setelah dimandiin, jenazah Monick langsung dibawa ke rumah duka di Cikini. 

Sampainya di rumah duka Cikini, kerumunan orang-orang berbaju hitam sudah banyak yang datang. Mereka adalah sahabat-sahabat Monick. Gue merinding begitu banyak yang sayang sama dia. Gue bahagia banyak teman-teman Monick yang mau jaga jenazah Monick.  Gue seneng bisa jaga buku tamu dan kotak uang di rumah duka. Gue terharu karena kita semua bisa bagi tugas untuk memperlancarkan acara selama di rumah duka dan di pemakaman. Dan bagi kita itu semua bukan sebuah tugas dan sebuah beban melainkan sudah kewajiban kita memberikan yang terbaik untuk Monick sebagaimana Monick juga sangat baik sama kita semua semasa hidupnya. 

26 Februari 2015. Tanggal dimana Monick akan disemayamkan di petamburan. Gue kembali ke rumah duka pukul 4 subuh. Setelah gue datang, beberapa teman-teman pulang untuk beristirahat sebentar sebelum kembali lagi untuk mengikuti proses pemakaman. Hari yang masih pagi. Masih dingin dan gelap. Dimana jenazah Monick sendirian di rumah duka, disitulah gue duduk disampingnya dan kembali mengeluarkan air mata. Terlalu banyak kenangan diantara kita dan masih banyak planning yang belum tercapai. Waktu rasanya cepat sekali berlalu, baru aja rasanya berduaan dengan Monick, tapi matahari sudah naik dan beberapa pelayat kembali datang dan gue harus menyingkir dari jenazah dan kembali meyiap-nyiapkan yang lain, sperti kopi dan teh untuk tamu, lalu mencari bendera kuning untuk konvoi di jalan dan lain-lain.

Tepat pukul 14:00, peti jenazah siap ditutup, disitulah air mata dan teriakan kembali terdengar. Baik dari keluarga maupun sahabat. Karena sesungguhnya prosesi penutupan peti adalah prosesi yang paling menyedihkan karena disitulah terakhir kali nya kita melihat wajahnya dan menyentuh tubuhnya. Usai ditutup, peti langsung dinaikkan ke ambulance. Karena Monick dan demi Monick, gue menahan diri dan memaksakan diri untuk kuat mendengar suara ambulance. Semenjak meninggalnya alm tante gue dan alm Oma gue, gue jadi trauma dengan ambulance dan Monick tau itu. Dan kemarin gue harus mendengar suara itu lagi ditengah-tengah konvoi ke pemakaman dan mungkin stelah ini gue akan lebih benci suara itu karena meninggalnya Monick. Sampainya di pemakaman. Sebagian teman-teman, sahabat dan guru-guru semasa SMA Monick sudah berada disana untuk mengantarkan Monick ke tempat peristirahatan yang terakhir.  Air mata kembali menderu ketika peti diturunkan. Lalu kami menaburkan bunga dan foto bersama. 

Berikut dibawah ini akan gue lampirin beberapa foto dari tanggal 25 sampai 26 Februari:











 

1 Maret 2015. Sampai hari ini pun, gue masih belom percaya Monick pergi ninggalin gue untuk selama-lamanya. Gue masih ngerasa kalo dia masih ada dan lagi bobo di rumahnya. Gue bener-bener masih nunggu kedatangan dia ke rumah gue yang di Pamulang, karena dia janji mau nginep di rumah gue. Dari Valentine gue tunggu-tunggu dia nggak ada dan ternyata dari Valentine itu lah dia sedang melawan masa koma nya . Kenapa harus secepat ini? Kenapa harus Monick? Dia sahabat baik ku, dia adik ku yang paling manja, dia orang yang paling ngerti aku. Kepergian Monick meninggalkan luka dan sedih yang amat dalam bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya. Air mata seakan mengalir terus menerus tanpa henti. Yang gue percaya sekarang ini adalah, sejauh apapun jaraknya, doa pasti akan selalu sampai dan ada tidak adanya raga Monick, tapi Monick akan tetap dikenang dan hidup di hati kita sampai kapanpun. Love u dek.. miss u so muchhhh.....


-YCR-

Saturday, February 21, 2015

Tentang Sahabat


Setiap manusia yang hidup pasti punya yang namanya sahabat. Dan bahkan mungkin kedekatannya melebihi kedekatan lo sama sodara lo sendiri. Dimana lo bisa curhat apa aja yang mungkin nggak bisa lo curhatin ke sodara lo. Iya nggak? Dan sahabat yang baik nggak akan pernah ngajak sahabatnya ikut rusak meskipun dia rusak. Dia nggak akan pernah menjerumuskan sahabatnya, meskipun dia sudah terjerumus. Kali ini, gue akan ngeblog tentang sahabat gue. Sahabat yang udah kayak sodara dan adik buat gue. Dimana ada gue, pasti ada dia dan sebaliknya. Di setiap acara keluarga pun dia selalu ada dan hadir.





Ini foto pas nikahan kakak sepupu gue di daerah cilandak yang dihadiri oleh sahabat gue (Sorry ada yang miring fotonya).



Masih dengan acara yang sama, acara nikahan kakak sepupu gue. Hanya saja beda tempat dan beda waktu. Ini acara nikahan yang di sudirman.




Nah kalo yang ini pas birthday gue. Udah lama sih, cuma gpp lah ya. Kebetulan foto terbarunya belom ada. 



Hey! look at this! Betapa intimnya sahabat gue sama alm Oma gue. 



Sebenernya masih banyak lagi foto2 dia sama keluarga besar gue, tapi terlalu panjang kali lebar kayaknya kalo gue post semua. Semasa hidup gue, Tuhan selalu memberikan gue sahabat dengan para senior. Semenjak gue duduk di bangku SD, gue terbiasa main dengan senior. Sampai akhirnya gue masuk SMA dan kenal sama Monick. Bedanya dia junior gue dan jarang-jarang gue bertemen deket sama junior. Kita bercanda bareng, kita sedih bareng, kita sering curhat-curhatan, kita suka saling nginep, kita sering jalan bareng, kita suka ngechenk’in orang, ngetawain orang dan melakukan hal bodoh lainnya. Dibalik kesenangan, kita juga sering adu argumen yang kadang ngebuat kita berantem dan sok diem-diem’an kayak orang nggak kenal. Nggak hanya sampe disitu aja, pas gue susah pun dia ada. Gue sakit dia ada. Gue kecelakaan pas di hari ulang tahunnya, dia juga langsung dateng ke rumah sakit dan cancel semua acara. Gue oprasi dia ada. Gue mau check up ke rumah sakit, dia temenin. Gue dirawat di rumah sakit, dia bisa 2 kali dateng dalam sehari.

Tapi sekarang? Itu semua tinggal kenangan, karena sekarang dia sedang melawan masa komanya di ruang ICU. Kemarin, hari ini, besok dan mungkin untuk beberapa hari kedepan, gue akan menjalani hari-hari gue dengan penuh kesedihan. Sebagai sahabat, gue merasa hina karena nggak bisa dateng langsung pas dapet kabar kalo dia kembali koma, setelah apa yang udah dia kasih ke gue. Gue nggak bisa gerak cepet kayak dia karena berbagai hal. Gue cuma bisa dateng di waktu free. Pas pulang kantor. Pas weekend. Bahkan pas kemaren dapet kabar kalo dia koma, gue nggak bisa langsung dateng, malah besokkannya. Tapi mungkin gue adalah sahabat yang paling beruntung, karena gue selalu menjadi orang nomor satu yang diberikan info terbaru tentang keadaan Monick oleh kakak-kakaknya.

Monick terkena meningitis dan meningitisnya sudah akut sampai tahap batang otak. Batang otak nya sudah di grogoti oleh virus akibat obat yang nggak diminum dengan tuntas. Obat yang seharusnya di minum selama 8 bulan nonstop hanya di minum 2 bulan. Dan rasa-rasanya gue pengen tampar dia kalo dia udah sadar. Gue tau banget betapa batu dan keras kepalanya dia kalo disuruh minum obat dan ke dokter. Dia orang yang paling anti dengan rumah sakit, dia nggak pernah mau kelihatan lemah, dia mau selalu terlihat ceria dan nggak ada apa-apa. Tapi satu hal yang gue tau, dia sering mimisan semasa SMA. Setelah keluar masuk rumah sakit, mungkin ini adalah masa-masa puncak kesedihan gue. 

Dia teman buat gue. Dia sahabat buat gue. Di adik buat gue. Dia sodara buat gue. Banyak sahabat yang mempunyai posisi yang sama dengan Monick. Hanya saja kali ini, gue mendapatkan sahabat yang lebih muda, dimana dia masih labil, masih emosian dan sangat manja. Mungkin karena itu  gue selalu menganggap dia sebagai adik gue. Dan rasa kaget ketika mendengar kabar dia koma pun adalah rasa khawatir seorang kakak kepada adiknya sendiri.

Nah dibawah ini nih, ada sebagian foto semasa dia lagi keluar masuk rumah sakit.





Semalem gue kembali ke rumah sakit sama beberapa temen gue dan gue menang banyak bisa 4 kali tatap muka dengan Monick. Dan kemungkinan hari selasa gue bakal balik lagi kesana untuk melepas rindu. Satu hal yang gue rasain sekarang adalah rasa kangen yang teramat dalam. Gue pengen balik ke masa dulu, dimana kita masih bisa ketawa, becanda-canda dan ledek-ledekan. Monick masuk Rumah Sakit tepat di hari Valentine kemarin. Dimana seminggu sebelumnya dia janji mau nginep di rumah gue buat nonton dvd bareng. Maklum nasib jomblo cuma bisa nonton dvd pas valentine. Sayangnya pas hari itu tiba, si Monick nggak nongol2 batang idungnya. Gue bbm juga nggak respon, bahkan pending. Sampe keesokan harinya, gue buka path dan liat update’an kakaknya, kalo Monick baru aja sadar dari koma. Detik itu juga gue lemes dan kaget. Besokkannya gue pulang kantor langsung nengok. Cukup sedih melihat keadaannya yang susah komunikasi. Ingatan yang mulai menghilang dikit sedikit. Usai hari itu gue belum balik lagi ke rumah sakit, sampai gue denger kabar Monick kembali kejang-kejang, koma dan masuk ICU. Disitulah puncak gue menangis hebat.

Berikut foto-foto terbaru Monick di ruang ICU

 
Dek, gue kangen bangetttttt!! Kenapa harus koma lagi? kenapa lo?! Kenapa nggak orang lain?! Lo orang yang kuat. Yang tangguh. Lo pasti bisa melewati semua ini. Gue yakin Tuhan Yesus mampu jamah lo. Banyak orang yang sayang sama lo. Apapun yang terjadi adalah yang terbaik dan apapun yang terjadi gue akan selalu ada buat lo dan nyupport lo. Lo pasti bisa bangun lagi! Lo pasti sembuh! Ayooo...semangat! kuat! Biar kita bisa main-main lagi.


Matahari akan selalu ada meski ditutupi awan. Akan selalu ada pelangi sehabis hujan. Begitu juga dengan janji’Mu yang selalu ada, tepat dan indah pada waktunya. Mujizat masih ada. Cepet sembuh kesayangan.  Miss you and love u so much .......  :(


-YCR-