Pulang kantor hari ini gue tutup dengan makan sore
menjelang malam sama salah satu temen kantor gue. Temen baru di kantor baru yang menurut gue baik
dan nggak aneh-aneh. Gue biasa manggil dia dengan panggilan “mba” , biasalah
dia lebih tua dari gue. Sepertinya gue memang
diciptakan untuk berteman dengan orang yang selalu lebih tua dari gue. Gue
cukup ngerasa deket sama dia, mungkin emang karena dia asik dan gue ngerasa
nyaman kalo curhat ke dia and sometimes gue jadi nganggep dia kakak gue.
Oke, kenapa jadi bahas dia. Siapa dia? Sebut aja
mawar. Yang terpenting adalah di tengah-tengah obrolan gue sama dia, dia
nanya gue lagi pdkt sama siapa sekarang. Mungkin pertanyaan nya nggak penting, tapi pertanyaan dia ngebuat gue keinget dengan sesuatu. Berbagai jawaban gue kasih, yang
sebenernya menurut gue itu nggak salah, tapi bukan itu juga point sebenernya. Gue mendadak keinget sama ucapan atau bisa dibilang juga
doa gue yang kayaknya di kabulin sama Tuhan.
Suatu hari, waktu itu. Nggak tau waktu kapan. Lama banget.
Dimana gue baru putus-putusnya sama mantan gue. Dan ngeliat temen-temen gue
merid, hal pertama yang gue bilang ke Tuhan adalah gue nggak mau pacaran dulu,
gue belom mau merid dan gue bilang ke Tuhan kalo gue bakalan mau berhubungan
sama cowok lagi kalo apa yang gue mau, alias kesuksesan gue, udah sesuai dengan
target gue. Karena buat gue, pada saat itu, makhluk yang biasa disebut cowok
itu cuma buang waktu, bikin karier dan semua cita-cita gue gagal tercapai tepat
pada waktunya. And theeeeeen...... gue ngerasa sekarang berada di sebuah padang
rumput yang panas dan gersang semacam rindu belaian. Serius ini bukan kode. Bukan
sandi. Apalagi sandi morse.
Perbedaan yang sangat jauh pesat. Ibarat makanan nih
gue, cowok-cowok itu lalat nya. Datang
silih berganti, nggak menyedihkan kayak sekarang. Hal positif yang bisa gue
ambil sekarang adalah gue jadi sadar kalo omongan itu adalah doa. Apa yang kita
ucap adalah doa. Gue jadi sadar akan pentingnya lidah dan mulut, meskipun
bentuknya kecil dan nggak bertulang,
lidah dan mulut itu pisau yang paling tajam. Dengan lidah, kita bisa ngebuat
luka besar di hati orang, bisa ngebuat senyuman di wajah mereka atau mungkin
malah bikin hidup kita susah sendiri. Dan sekarang gue sedang berusaha untuk menarik kata-kata gue kembali.
-YCR-
No comments:
Post a Comment