Beberapa hari yang lalu gue kumpul bocah sama temen-temen
sekolah gue. Seperti biasa, pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan di
lontarkan dari mulut mereka. Dari yang nanya kerja dimana, posisinya sebagai apa,
pacar nya siapa, pacar nya mana, kapan nikah, sampai kapan punya anak.
Dan dari semua pertanyaan yang di lontarkan diatas, sejujurnya
gue paling risih dengan pertanyaan kapan punya anak. Meskipun gue belom merid,
gue agak nggak tega ke pasangan suami istri yang di lontarkan pertanyaan kapan
punya anak. Apalagi kalo pasangan suami
istri itu sahabat gue sendiri. Buat gue pertanyaan itu nggak penting dan
bener-bener shit question!
Boleh lo cek sendiri, setiap gue dateng ke nikahan temen ato
ketemu temen yang udah merid lama tapi belom punya anak, gue nggak pernah nyinggung
soal anak ke mereka. Even mereka sahabat gue sendiri, gue nggak pernah mau
tanya soal itu. Buat gue mendoakan lebih baik dan lebih mempunyai efek yang besar ketimbang banyak nanya. Hal yang selalu gue ucapin
setiap dateng ke nikahan temen nggak jauh-jauh dari kata “Semoga langgeng dan
bahagia selalu”. Buat gue kata bahagia itu konteksnya luas dan lebar, yang bisa
nentuin bahagianya seperti apa yang mereka sendiri, karena bahagia kita belom
tentu bahagia mereka. Dan gue berpikir, ketika lo ngucapin “semoga cepet punya
anak” atau nanya “kapan punya anak” itu secara nggak langsung lo menekan mereka
untuk cepet-cepet segera punya anak dan mentalnya juga terganggu. Sedangkan lo
nggak pernah tau kondisi rumah tangga mereka. Lo nggak pernah tau apa yang terjadi
sebenernya. Bisa aja mereka belom mau punya anak. Bisa aja mereka masih mikirin keuangannya gimana kalo udah punya anak. Atau bisa juga si istri atau suami punya kelainan seperti mandul. Atau
nggak si istri nggak pernah akur sama mertua atau nggak si suami nggak pernah
cocok sama keluarga istri. Bisa juga si suami istri ini kerjaannya berantem
yang bikin keduanya jadi nggak pernah bisa produksi anak dan masih banyak
kemungkinan lainnya. Intinya kita nggak pernah tau. Hal yang dulu gampang
dibuka dan diceritakan semuanya ketika masih lajang, akan menjadi sedikit yang
dibagikan ke lo ketika merid bahkan ada yang ditutupi dengan senyuman palsu
agar terlihat bahagia.
Pertanyaan “semoga cepet punya anak” atau nanya “kapan punya
anak” itu sama hal nya dengan skripsi. Iya skripsi. Lagi-lagi harus disamain
sama skripsi, karena gue tau banget perasaan anak-anak mahasiswa tingkat dewasa
alias tingkat akhir yang susah banget ngerjain skripsi. Pertanyaan “kapan
skripsi kelar” cuma bikin si mahasiswa itu sendiri panik, mental nya
kemana-mana. Karena gue pernah ngalamin yang namanya skripsi, gue tau banget
keselnya ditanya kayak gitu. Bawaannya pengen bilang “Lo nggak tau kondisinya”.
Kondisi ketika harus ngejar dosen, di php’in dosen. Katanya suruh tunggu jam
sekian dan nunggu di tempat A, B, C, dan setelah berjam-jam nunggu, si dosen
malah udah pulang atau bahkan bilang gak jadi, reschedule aja. Sakit kaaaaaan.
Sebagai pembela manusia-manusia bodoh yang stuck skripsi dan
pembela pasangan yang belom-belom punyak anak, gue menyarankan untuk stop
dengan pertanyaan kapan skripsi kelar dan kapan punya anak. Cheers :D
-CR-
No comments:
Post a Comment