Friday, January 23, 2015

SHIT QUESTION



Beberapa hari yang lalu gue kumpul bocah sama temen-temen sekolah gue. Seperti biasa, pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan di lontarkan dari mulut mereka. Dari yang nanya kerja dimana, posisinya sebagai apa, pacar nya siapa, pacar nya mana, kapan nikah, sampai kapan punya anak. 

Dan dari semua pertanyaan yang di lontarkan diatas, sejujurnya gue paling risih dengan pertanyaan kapan punya anak. Meskipun gue belom merid, gue agak nggak tega ke pasangan suami istri yang di lontarkan pertanyaan kapan punya anak.  Apalagi kalo pasangan suami istri itu sahabat gue sendiri. Buat gue pertanyaan itu nggak penting dan bener-bener shit question!

Boleh lo cek sendiri, setiap gue dateng ke nikahan temen ato ketemu temen yang udah merid lama tapi belom punya anak, gue nggak pernah nyinggung soal anak ke mereka. Even mereka sahabat gue sendiri, gue nggak pernah mau tanya soal itu. Buat gue mendoakan lebih baik dan lebih mempunyai efek yang besar ketimbang banyak nanya. Hal yang selalu gue ucapin setiap dateng ke nikahan temen nggak jauh-jauh dari kata “Semoga langgeng dan bahagia selalu”. Buat gue kata bahagia itu konteksnya luas dan lebar, yang bisa nentuin bahagianya seperti apa yang mereka sendiri, karena bahagia kita belom tentu bahagia mereka. Dan gue berpikir, ketika lo ngucapin “semoga cepet punya anak” atau nanya “kapan punya anak” itu secara nggak langsung lo menekan mereka untuk cepet-cepet segera punya anak dan mentalnya juga terganggu. Sedangkan lo nggak pernah tau kondisi rumah tangga mereka. Lo nggak pernah tau apa yang terjadi sebenernya. Bisa aja mereka belom mau punya anak. Bisa aja mereka masih mikirin keuangannya gimana kalo udah punya anak. Atau bisa juga si istri atau suami punya kelainan seperti mandul. Atau nggak si istri nggak pernah akur sama mertua atau nggak si suami nggak pernah cocok sama keluarga istri. Bisa juga si suami istri ini kerjaannya berantem yang bikin keduanya jadi nggak pernah bisa produksi anak dan masih banyak kemungkinan lainnya. Intinya kita nggak pernah tau. Hal yang dulu gampang dibuka dan diceritakan semuanya ketika masih lajang, akan menjadi sedikit yang dibagikan ke lo ketika merid bahkan ada yang ditutupi dengan senyuman palsu agar terlihat bahagia.

Pertanyaan “semoga cepet punya anak” atau nanya “kapan punya anak” itu sama hal nya dengan skripsi. Iya skripsi. Lagi-lagi harus disamain sama skripsi, karena gue tau banget perasaan anak-anak mahasiswa tingkat dewasa alias tingkat akhir yang susah banget ngerjain skripsi. Pertanyaan “kapan skripsi kelar” cuma bikin si mahasiswa itu sendiri panik, mental nya kemana-mana. Karena gue pernah ngalamin yang namanya skripsi, gue tau banget keselnya ditanya kayak gitu. Bawaannya pengen bilang “Lo nggak tau kondisinya”. Kondisi ketika harus ngejar dosen, di php’in dosen. Katanya suruh tunggu jam sekian dan nunggu di tempat A, B, C, dan setelah berjam-jam nunggu, si dosen malah udah pulang atau bahkan bilang gak jadi, reschedule aja. Sakit kaaaaaan. 

Sebagai pembela manusia-manusia bodoh yang stuck skripsi dan pembela pasangan yang belom-belom punyak anak, gue menyarankan untuk stop dengan pertanyaan kapan skripsi kelar dan kapan punya anak. Cheers :D


-CR-

No comments:

Post a Comment